I don’t know what to do. I don’t know what to write. I don’t have any inspiration. My mind’s very blank right know but also ask me to doing something, at lest write. Ohmaygod, What should I do first? Please gimme some Idea so I can write a good stuff. Gimme gimme gimme. Ooouhhh i’m sorry I’m still dunno what to write yet. Sorry sorry sorry. Sorry for being the person like this. I promise next time I will wite something good.
Apa perlu ditegur dulu untuk kemudian mengerti bahwa kita hanyalah manusia biasa?
Apa perlu diuji dulu untuk kemudian sadar bahwa apa-apa yang kita punya pada dasarnya hanyalah titipan?
Apa perlu sakit dulu untuk kemudian tahu betapa mahalnya nikmat sehat?
Apa perlu mati dulu untuk kemudian mengerti betapa sia-sianya hidup tanpa taqwa?
Hanya sedang merasa umur bertambah tua dan iman semakin payah.
Tidak mau bercerita panjang karena memang sedang tak ingin banyak berceloteh apalagi mengeluarkan suara. Hanya saja, ingin sedikit berbagi tentang apa-apa yang baru saja diketahui.
Ini tentang sebuah peringatan besar. Peringatan untuk semua makhluk, terkhusus yang mengaku dirinya manusia. "Peringatan Akhir Zaman". Begitulah kiranya.
Awalnya semua ini hanya reminder untuk diri sendiri, hanya saja merasa jika berbagi untuk diketahui bersama memang tidak pernah salah. Berharap semoga ini bisa jadi bahan merenung untuk kita semua.
Mari kita mulai...
Daripada Abu Umamah r.a. bahwa Nabi s.a.w.bersabda: Kelak akan ada orang-orang dari umatku (Islam) memakan berbagai macam makanan dan memakai berbagai pakaian, banyak berbicara tanpa dipikirkan dahulu apa sebetulnya yang dibicarakan itu, maka itulah seburuk-buruk manusia dari sebagian Umatku (Islam). (Riwayat Thabrani dan Abu Nu'aim).Sekian dulu. Sampai jumpa dilain waktu...
Jadi waktu gue kecil dulu, kalo ga salah sih waktu SD kelas 2, gue pernah mendapat tugas dari sekolah untuk ngisi semacam daftar pertanyaan-pertanyaan yang menyangkut kehidupan gue kayak, tempat lahir gue, hobby, pekerjaan ortu, sampai dengan cita-cita. Yang pengen gue tanggapi di sini adalah yang bagian cita-cita.
Lo mau tau apa yang gue isi waktu itu? Gue tulis gue pengen jadi Guru. Gue ga terlalu inget bener sih alesan kenapa gue pengen jadi guru, kalo ga salah sii karna temen deket gue bilang pengen jadi guru, makanya gue ikut-ikutan aja deh. Hahaha. Emang ga ada pendirian banget kok gua waktu itu.
Menginjak kelas 5 SD, lagi-lagi gue di suruh mengisi pertanyaan yang sama seperti sebelumnya. Gak tau sii sebenerya buat apa dan mau dikemanakan semua itu? Gue pun ga banyak nanya soal itu. Kempali ke topik tentang cita-cita, kali ini gue punya jawaban yang berbeda dengan sebelumnya.
Mungkin karena efek masih labil kali ya, jadi omongannya sering berubah-ubah. Wkwk.
Untuk jawaban yang gue tulis kali ini bener-bener yag bikin gue pengen ketawa. Gue bilang gue pengen jadi dokter. WOW. Emang ga ada salahnya sih bermimpi tinggi, asalkan itu emang pure mimpi kita. Bukan cuma karena terpesona dengan style ala seorang dokter dengan jas putihnya yang sering gue liat di sinetron-sinetron jaman dulu. Haha. Gue bilang gini karena itulah yang terjadi pada diri gue saat itu.
“wihhh dia keren ya,, gue pengen ah jadi kayak dia” itu kesan pertama gue saat gue ngeliat si dokter keren yang ada layar tv gue waktu itu. Dan semenjak saat itu tiap kali gue dintanyain soal cita-cita mesti gue jawabnya “gue pengen jadi dokter”. Padahal mah dalam hati ga bener-bener pengen. Punya cita-cita aja enggak. Haaha.
Emang gue waktu itu literally kayak ga ada pemikiran mau jadi seperti apa gue di masa depan nantinya, yang gue pikirin sih sekarang gue belajar aja yang giat, soal masa depan kita pikir belakangan. Yang penting, untuk sementara gue udah ada senjata kalo ditanyain orang cita-cita, gue bisa jawab “gue pengen jadi dokter”. Haha konyol memang.
Okkay berlanjut ke SMP, pertanyaan dan jawaban seputar cita-cita yang gue berikan masih sama kayak terakhir kali gue ditanya waktu SD. Iya gue masih berpegang teguh pada pendirian bahwa cita-cita gue pengen jadi dokter. Keren banget ya gue. Karena jawaban gue yang sok sok an pengen jadi dokter ini, ga jarang loh gue dikeren-kerenin sama temen-teman maupun orang yang kenal gue.
Padahal setiap kali gue digituin gue cuma bisa tersenyum kecut aja dalam hati sambil ngomong ke diri gue “what the heck.. gue ga bener-bener suka ini” cuma mau gimana lagi, gue juga bingung kalo dikit-dikit ditanyaain soal cita-cita coz I don’t have any idea. Karena gue anaknya males mikir, jadilah gue menjadikan itu sebagai senjata kalo gue ditembak dengan pertanyaan-pertanyaan semacam itu. Kepada yang pernah gue dustai. Tolong maafkan gue, manusia yang penuh salah dan khilaf ini. hiks
Lo mau tau apa yang gue isi waktu itu? Gue tulis gue pengen jadi Guru. Gue ga terlalu inget bener sih alesan kenapa gue pengen jadi guru, kalo ga salah sii karna temen deket gue bilang pengen jadi guru, makanya gue ikut-ikutan aja deh. Hahaha. Emang ga ada pendirian banget kok gua waktu itu.
Menginjak kelas 5 SD, lagi-lagi gue di suruh mengisi pertanyaan yang sama seperti sebelumnya. Gak tau sii sebenerya buat apa dan mau dikemanakan semua itu? Gue pun ga banyak nanya soal itu. Kempali ke topik tentang cita-cita, kali ini gue punya jawaban yang berbeda dengan sebelumnya.
Mungkin karena efek masih labil kali ya, jadi omongannya sering berubah-ubah. Wkwk.
Untuk jawaban yang gue tulis kali ini bener-bener yag bikin gue pengen ketawa. Gue bilang gue pengen jadi dokter. WOW. Emang ga ada salahnya sih bermimpi tinggi, asalkan itu emang pure mimpi kita. Bukan cuma karena terpesona dengan style ala seorang dokter dengan jas putihnya yang sering gue liat di sinetron-sinetron jaman dulu. Haha. Gue bilang gini karena itulah yang terjadi pada diri gue saat itu.
“wihhh dia keren ya,, gue pengen ah jadi kayak dia” itu kesan pertama gue saat gue ngeliat si dokter keren yang ada layar tv gue waktu itu. Dan semenjak saat itu tiap kali gue dintanyain soal cita-cita mesti gue jawabnya “gue pengen jadi dokter”. Padahal mah dalam hati ga bener-bener pengen. Punya cita-cita aja enggak. Haaha.
Emang gue waktu itu literally kayak ga ada pemikiran mau jadi seperti apa gue di masa depan nantinya, yang gue pikirin sih sekarang gue belajar aja yang giat, soal masa depan kita pikir belakangan. Yang penting, untuk sementara gue udah ada senjata kalo ditanyain orang cita-cita, gue bisa jawab “gue pengen jadi dokter”. Haha konyol memang.
Okkay berlanjut ke SMP, pertanyaan dan jawaban seputar cita-cita yang gue berikan masih sama kayak terakhir kali gue ditanya waktu SD. Iya gue masih berpegang teguh pada pendirian bahwa cita-cita gue pengen jadi dokter. Keren banget ya gue. Karena jawaban gue yang sok sok an pengen jadi dokter ini, ga jarang loh gue dikeren-kerenin sama temen-teman maupun orang yang kenal gue.
Padahal setiap kali gue digituin gue cuma bisa tersenyum kecut aja dalam hati sambil ngomong ke diri gue “what the heck.. gue ga bener-bener suka ini” cuma mau gimana lagi, gue juga bingung kalo dikit-dikit ditanyaain soal cita-cita coz I don’t have any idea. Karena gue anaknya males mikir, jadilah gue menjadikan itu sebagai senjata kalo gue ditembak dengan pertanyaan-pertanyaan semacam itu. Kepada yang pernah gue dustai. Tolong maafkan gue, manusia yang penuh salah dan khilaf ini. hiks
Kalo boleh bilang gue sempet iri loh sama kalian-kalian yang beneran punya cita cita. Dengan punya cita-cita yang jelas sejak kecil, berarti seseorang akan bisa lebih tau skill mana yang musti dia asah dan kembangin jauh-jauh hari, juga habit-habit jelek apa saja yang harus dia tinggali biar kedepannya lebih gampang aja sii dan ga menghalangi jalan menuju masa depan dia yang cemerlang. Yaaa.. paling tidak dia tahu lah ya, kemana dia harus melangkah setelah ini. Pikir gue waktu itu.
Okke mari kita lanjut..
Menginjak bangku SMA, lagi lagi gue dilema melihat kanan kiri gue yang udah mantep banget dengan rencana hidup dia setelah lulus. Ga jarang mereka jauh-jauh hari udah mulai nyari-nyari kampus-kampus favorite buat di daftarin setelah lulus dari SMA. Dan guee. Gue tetep masih bingung dengan diri gue. Gue bener-bener ga tau gue mau jadi apa.
Di penghujung kelas 3 yang mana sudah menjadi kewajiban setiap siswa yang masih punya keinginan lanjut sekolah untuk memilih kampus dan jurusan yang ingin dia tekuni setelah lulus, tanpa pikir panjang gue langsung memilih jurusan Pendidikan Kimia UNY sebagai pilihan pertama gue pada ujian masuk jalur SNMPTN. Sementara pilihan kedua gue ngambil jurusan Kedokteron UGM (apa ga stress banget gue. haha).
Alasan gue menjatuhkan pilihan pertama gue pada pendidikan kimia karena gue akui diantara pelajaran-pelajaran yang lain, pelajaran kimia adalah pelajaran yang gue rada mudeng dan itu dibuktikan dengan nilai-nilai ulangan gue yang selalu bagus di mata pelajaran ini. Sementara untuk pilihan kedua sebenarnya ini gue ngasal aja, karena gue ngerasa kayak ga ada jurusan lain yang menarik saat itu, dan untungnya gue pun ga ada ekspektasi bakal keterima di situ. Haha.
Dan akhirnya, kalian mau tau gue keterima dimana? Gue keterima di Poltekkes Kemenkes Surakarta Prodi D IV Jurusan Keperawatan. Gimana ceritanya? Gue bahas aja di lain kesempatan . Wakwaw.
By the way, dari tadi gue bilangnya gue ga ada cita-cita mulu ya? gue ngomong kek gini ini bukan berarti gue hidupnya nyante-nyante aja ya. Gue juga cukup bekerja keras kok semasa sekolah. Jujur aja dulu gue termasuk anak yang pinter dan rajin banget di kelas. Karena itu ga jarang gue masuk peringkat atas di kelas, bukan jarang lagi sii tapi udah pasti selalu. hehe.
Dannn karena kepinteran gue ini, banyak orang yang ngedeketin gue, bahkan mereka sampe rebut-rebutan pengen duduk di sebelah gue. Ga cowo, ga cewe. Semuanya sama aja. Apa mereka ngedeketin gue karena beneran pengen kenal atau hanya sekedar ingin memanfaatkan gue? Entahlah, gue ga tau dan gue ga pengen tau. Yang penting gue enjoy aja.
Di sini gua ga bermaksud sombong ataupun pamer ya, yang pengen gue notice di sini adalah kualitas otak itu ternyata cukup menjadi perhitungan society kita. Kalo lo ga cantik dan kaya, paling tidak lo harus pintar kalo lo berkeinginan untuk terkenal dan punya banyak teman.
Gue bisa bilang gitu karena gue sudah membuktikannya sendiri. Di kehidupan kuliah gue yang mana gue biasa-biasa aja, ga pinter-pinter banget, bahkan ga pinter sama sekali ini gue kayak melihat orang-orang pada lari aja gitu. (haha kasian banget ya). Tapi gue justru sangat bahagia kok. Dengan gue yang sekarang ini, gue jadi ngerasa lebih punya banyak space sehingga gue pun bisa lebih mengenal diri sendiri, juga memikirkan hidup gue yang entah mau dibawa kemana lagi setelah ini. so it’s literally no problem.
Dan kalo lo sekaramg tanya apakah gue sudah menemukan cita-cita gue? Jawabannya gue GUE GA TAU.
Okke mari kita lanjut..
Menginjak bangku SMA, lagi lagi gue dilema melihat kanan kiri gue yang udah mantep banget dengan rencana hidup dia setelah lulus. Ga jarang mereka jauh-jauh hari udah mulai nyari-nyari kampus-kampus favorite buat di daftarin setelah lulus dari SMA. Dan guee. Gue tetep masih bingung dengan diri gue. Gue bener-bener ga tau gue mau jadi apa.
Di penghujung kelas 3 yang mana sudah menjadi kewajiban setiap siswa yang masih punya keinginan lanjut sekolah untuk memilih kampus dan jurusan yang ingin dia tekuni setelah lulus, tanpa pikir panjang gue langsung memilih jurusan Pendidikan Kimia UNY sebagai pilihan pertama gue pada ujian masuk jalur SNMPTN. Sementara pilihan kedua gue ngambil jurusan Kedokteron UGM (apa ga stress banget gue. haha).
Alasan gue menjatuhkan pilihan pertama gue pada pendidikan kimia karena gue akui diantara pelajaran-pelajaran yang lain, pelajaran kimia adalah pelajaran yang gue rada mudeng dan itu dibuktikan dengan nilai-nilai ulangan gue yang selalu bagus di mata pelajaran ini. Sementara untuk pilihan kedua sebenarnya ini gue ngasal aja, karena gue ngerasa kayak ga ada jurusan lain yang menarik saat itu, dan untungnya gue pun ga ada ekspektasi bakal keterima di situ. Haha.
Dan akhirnya, kalian mau tau gue keterima dimana? Gue keterima di Poltekkes Kemenkes Surakarta Prodi D IV Jurusan Keperawatan. Gimana ceritanya? Gue bahas aja di lain kesempatan . Wakwaw.
By the way, dari tadi gue bilangnya gue ga ada cita-cita mulu ya? gue ngomong kek gini ini bukan berarti gue hidupnya nyante-nyante aja ya. Gue juga cukup bekerja keras kok semasa sekolah. Jujur aja dulu gue termasuk anak yang pinter dan rajin banget di kelas. Karena itu ga jarang gue masuk peringkat atas di kelas, bukan jarang lagi sii tapi udah pasti selalu. hehe.
Dannn karena kepinteran gue ini, banyak orang yang ngedeketin gue, bahkan mereka sampe rebut-rebutan pengen duduk di sebelah gue. Ga cowo, ga cewe. Semuanya sama aja. Apa mereka ngedeketin gue karena beneran pengen kenal atau hanya sekedar ingin memanfaatkan gue? Entahlah, gue ga tau dan gue ga pengen tau. Yang penting gue enjoy aja.
Di sini gua ga bermaksud sombong ataupun pamer ya, yang pengen gue notice di sini adalah kualitas otak itu ternyata cukup menjadi perhitungan society kita. Kalo lo ga cantik dan kaya, paling tidak lo harus pintar kalo lo berkeinginan untuk terkenal dan punya banyak teman.
Gue bisa bilang gitu karena gue sudah membuktikannya sendiri. Di kehidupan kuliah gue yang mana gue biasa-biasa aja, ga pinter-pinter banget, bahkan ga pinter sama sekali ini gue kayak melihat orang-orang pada lari aja gitu. (haha kasian banget ya). Tapi gue justru sangat bahagia kok. Dengan gue yang sekarang ini, gue jadi ngerasa lebih punya banyak space sehingga gue pun bisa lebih mengenal diri sendiri, juga memikirkan hidup gue yang entah mau dibawa kemana lagi setelah ini. so it’s literally no problem.
Dan kalo lo sekaramg tanya apakah gue sudah menemukan cita-cita gue? Jawabannya gue GUE GA TAU.

